Jumat, 09 Desember 2016

Warga BSD Tolak Buka Jalan untuk Wisata Mangrove

Warga BSD Tolak Buka Jalan untuk Wisata Mangrove

Keberadaan kawasan Taman Wisata Mangrove (TWM) yang dibangun tepat di belakang Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) mulai dikeluhkan warga. Pasalnya, sejak TWM dibuka hampir setahun melalui pintu masuk Taman Wisata Pondok Pesisir Pujasera, makin banyak masalah baru yang timbul. Mulai persoalan lahan parkir, meningkatnya jumlah kecelakaan di perumahan, keamanan rumah warga, hingga dampak sosial lainnya. Apalagi ketika pengunjungnya membludak di akhir pekan seperti hari Sabtu dan Minggu

Perumahan yang memiliki konsep kawasan cluster one gate atau satu pintu ini, sekarang sudah semakin sulit dikontrol petugas keamanan di pintu gerbang BSD. Warga yang bukan penghuni BSD, bebas-keluar masuk perumahan. Warga semakin dibuat gelisah, karena pengelola saat ini tengah mengurus izin agar membuka akses jalan lain di BSD, dengan cara membobol tembok di Jalan Gunung Bromo.

Izin untuk pembukaan akses jalan dengan membongkar tembok di Jalan Gunung Bromo ini disampaikan pengelola ke pengembang PT Kaltim Industrial Estate (KIE), yang ditembuskan ke Pemkot Bontang. Hal ini terungkap dalam pertemuan warga RT 39 BSD di kediaman ketua RT 39, dua hari lalu.

“Kami tidak mempermasalahkan keberadaan TMW. Kami hanya keberatan dengan penggunaan akses jalan BSD untuk menuju tempat ini. Karena sejak dioperasikan, banyak masalah yang ditimbulkan. Sekarang warga mulai bereaksi karena adanya permintaan izin untuk membongkar tembok di Jalan Gunung Bromo sebagai pintu masuk ke Taman Mangrove,” ungkap Didik Hariyanto, warga Jalan Gunung Latuk.

Didik berharap, pengelola bisa mencari alternatif jalan lain untuk menuju TWM tanpa harus mengganggu ketenangan dan kenyamanan warga. “Bila TWM ini akan dijadikan salah satu objek wisata Bontang, saya kira, pemkot bisa memfasilitasi untuk mencarikan solusi dan jalan lain,” tutur Didik.

Hal senada diungkapkan Sidarta Surya Yuana, warga Jalan Gunung Kelud. Menurutnya, saat ini dampak negatif yang ditimbulkan lebih besar ketimbang dapak positif, sejak TWM menggunakan akses jalan BSD.


“Saya yakin mayoritas warga BSD menolak penggunaan akses jalan untuk TWM. Karena sudah banyak keluhan yang muncul, mulai kenyamanan hingga keamanan,” beber Sidarta diamini Kenang Suntoro, M Ridwan, dan Damaji yang ketiganya tinggal di Jalan Bromo.

Dampak sosial lain yang saat ini juga dirasakan warga, banyaknya anak-anak muda pengunjung TWM mengumbar asmara saat boncengan sepeda motor. Padahal, banyak anak-anak yang tinggal di BSD.

“Dampak sosial ini yang sangat mahal harganya dan tidak bisa dinilai dengan apapun,” ucap Sidarta.

Nasrullah, warga Jalan Gunung Kawi menambahkan, bukan hanya TWM, tetapi tempat wisata Pondok Pesisir yang bersebelahan dengan TWM seharusnya juga tak boleh lagi menggunakan akses jalan BSD.

“Karena saya punya pengalaman beberapa bulan lalu, kedua anak saya ditabrak pemuda yang mengendari sepeda motor. Setelah saya interogasi, pemuda itu baru berkunjung dari Pondok Pesisir. Dia mengendari motornya dengan laju dan tidak punya sopan santun,” bebernya.

Di akhir pertemuan, akhirnya warga sepakat membubuhkan tanda tangan penolakan penggunaan akses jalan untuk kedua tempat wisata ini. Penolakan ini rencananya akan disampaikan kepada Pemkot Bontang, melalui kelurahan dan kecamatan. Dalam surat penolakan itu, warga juga meminta agar perumahan BSD, dikembalikan fungsi awalnya sebagai kawasan cluster one gate.

“Intinya warga ingin ketenangan dan kenyamanan. Apalagi warga yang tinggal di BSD, saat membeli rumah, tertarik karena konsep satu pintu. Jangan sampai, justru ini membuka pintu bagi warga luar bebas keluar masuk. Dan apa yang menjadi suara warga ini, kami selaku ketua RT hanya bisa meneruskan ke pemkot dan DPRD,” pungkas Abdullah, ketua RT 39 yang tinggal di Jalan Gunung Bromo. (red)
Sumber : BontangPost

Previous
Next Post »